ITS News

Kamis, 27 Maret 2025
14 November 2016, 01:11

Wicak, Dari Nilai Terendah Hingga Juara Nasional

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Cerita ini bermula sejak masa ketika Wicak tengah mengenakan seragam merah putihnya. Saat itu mahasiswa Jurusan Transportasi Laut ini selalu mendapat nilai tinggi pada hampir seluruh mata pelajaran. Namun ada pengecualian untuk nilai Bahasa Inggris. Hal itu seringkali membuat teguran wali kelas melayang pada Wicak.

Meskipun tidak pandai dalam Bahasa Inggris, nyatanya pria kelahiran Mojokerto ini mampu diterima di SMP dengan status yang tergolong ngejreng, yaitu Rintisan Sekolah Bertaraf Internaional (RSBI). "Nilai Bahasa Inggris saya hampir paling jelek saat itu, untungnya masih dapat ditutupi dengan nilai-nilai dari mata pelajaran lainnya," papar Wicak. 

Diterima di sekolah RSBI sempat mebuat Wicak minder ketika menyadari bahwa rekan sekelasnya telah fasih berbahasa Inggris. "Saya jadi malu karena hanya diam saja saat kerja kelompok. Soalnya tidak bisa berbicara dalam Bahasa Inggris," ungkapnya.

Hingga pada suatu hari, Ia mendapat tawaran untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris dari salah seorang temannya. Bukan main-main, tawaran tersebut datang dari seorang anak yang terkenal expert dalam Bahasa Inggris. Setelah memikirkannya dengan matang, Wicak memberanikan diri untuk menerima tawaran tersebut.

Hasilnya benar-benar di luar dugaan, dari total 20 tim yang berasal dari sekolahnya, hanya tim Wicak saja yang berhasil lolos ke babak 20 besar. Namun bukannya pujian, justru respon negatif lah yang Wicak dapatkan. Pasalnya, orang-orang menganggap Wicak hanya memanfaatkan keadaanya yang satu tim dengan anak pandai.

Keadaan semakin membuat Wicak terpojok tatkala pada babak presentasi, timnya tidak dapat lolos disebabkan Wicak yang kurang terampil berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Setelah peristiwa tersebut, berbagai sindiran kembali menghantam wajah Wicak dengan bertubi-tubi.

Kondisi ini membuat jiwa Wicak tercambuk hebat. Namun bukannya depresi, Wicak justru memilih untuk bangkit dari keterpurukan tersebut. Hari demi hari ia lalui dengan latihan keras dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. "Bahkan pernah dibilang aneh karena sering ngomong sendiri didepan cermin," ungkap Wicak.

Batu yang keras apabila ditetesi dengan air secara terus menerus lambat laun akan luluh juga. Begitu pula kemahiran Wicak yang semakin terasah seiring bertambahnya waktu. Hingga saat menginjak kelas satu SMA, untuk pertamakalinya Wicak memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi debat bahasa inggris tingkat nasional dan berhasil menduduki peringkat keempat. "Saat itu begitu menggembirakan. Saya dan tim bahkan tidak pernah membayangkan mampu lolos sampai sejauh itu," papar Wicak.

Prestasi tersebut semakin memicu Wicak untuk lebih giat lagi dalam mengasah skill bahasa inggrisnya itu. Berbagai macam kompetisi satu persatu berhasil Wicak taklukan setelahnya. Salah satunya adalah kompetisi debat bahasa inggris dalam rangkaian acara Chernival yang digelar oleh Jurusan Teknik Kimia ITS. "Saat itu alhamdulillah berhasil mendapat juara ketiga," tutur Volunteer dari ITS International Office ini.

Singkat cerita, saat mengikuti Chernival ada salah seorang anggota dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITS Foreign Language Society (IFLS) yang menyaksikan kebolehan Wicak. Alhasil sebuah ajakan eksklusif untuk bergabung dengan IFLS langsung datang menghampirinya sesaat  setelah Ia dinyatakan diterima di ITS. "Jadi saat mahasiswa baru yang lain sedang disibukan dengan urusan pengaderan, saya justru sedang digembleng untuk mengikuti sebuah kompetisi debat," paparnya.

Lomba pertama yang Wicak ikuti adalah Indonesian Naval Academy English Competition (INAEC). Saat itu Wicak dan salah satu rekan satu timnya memang peserta termuda yang mengikuti kompetisi tersebut, namun bukan berarti nihil prestasi. Sebuah gelar Best Speaker berhasil Ia amankan sebagai oleh-oleh. "Padahal saingan kami kebanyakan adalah mahasiswa tingkat akhir," ungkap Wicak.

Prestasi Wicak terus berlanjut. Pada Juli 2016 lalu, ia berhasil meraih juara dua dalam MTQ Mahasiswa Regional Jawa Timur untuk Cabang Debat Ilmiah Kandungan Al-Quran dalam Bahasa Inggris. Tak hanya itu, akhir-akhir ini Wicak juga sering diundang untuk melatih siswa SMA yang akan mengikuti lomba debat. Alih-alih menjadi peserta, Wicak bahkan pernah dipercaya untuk menjadi juri dalam sebuah kompetisi debat berkat jam terbangnya yang cukup tinggi.

Poinnya, latihan keras dan terus menerus adalah kunci untuk mencapai sebuah keberhasilan. "Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Lagi pula bakat itu dilatih, bukan dilahirkan," tutur Wicak mengakhiri percakapan. (qi/mis)

Berita Terkait