Kampus ITS, ITS News – Animo masyarakat Indonesia dalam menerapkan keuangan syariah semakin meningkat. Menyambut hal tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar kuliah tamu untuk mengenalkan konsep keuangan ini lebih dalam. Melalui kuliah yang diselenggarakan Departemen Aktuaria ini, dosen dan mahasiswa berkesempatan mempersiapkan diri menuju tren keuangan syariah di masa depan.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Wawan Hafid Syaifudin MSi MActSc mengatakan, kuliah yang diinisiasi oleh ITS Finance Group ini menjadi wadah untuk mengenalkan keuangan syariah pada mahasiswa. ITS Finance Group sendiri merupakan grup yang dipilari dosen Departemen Aktuaria, Departemen Statistika, Departemen Matematika, dan Departemen Manajemen Bisnis yang memiliki riset atau ketertarikan terhadap bidang keuangan. “Ke depan, kami juga berencana menyatukan seluruh sivitas akademika untuk membentuk Pusat Studi Keuangan dan Manajemen Resiko ITS,” ujarnya.
Dalam kuliah yang bertajuk Global Trends and Challenge ini dijelaskan, keuangan syariah diartikan sebagai sistem yang menggunakan prinsip dasar islam sebagai pedomannya. Dalam praktiknya, terdapat larangan melakukan pemberian bunga, judi, monopoli, penipuan, penimbunan barang, hingga menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. “Perkembangan yang pesat dan banyaknya jumlah populasi muslim Indonesia mendorong kami untuk mampu mempersiapkan datangnya fenomena keuangan tersebut,” jelas dosen Aktuaria tersebut.
Wawan menambahkan, pesatnya tren keuangan ini dapat dilihat dari cukup banyaknya negara di dunia yang telah menerapkan konsep keuangan syariah. Negara-negara tersebut di antaranya, Qatar, Malaysia, dan Turki. “Tidak sedikit pula negara yang tidak menganut asas islam seperti Singapura, Inggris, Hongkong dan Nigeria mulai mengadopsi sistem ini secara perlahan,” tambahnya.
Satu hal yang menurutnya perlu digarisbawahi, keuangan syariah tidak hanya berkaitan dengan umat islam. Akan tetapi, dapat dijadikan konsep alternatif yang lebih stabil daripada sistem keuangan konvensional. “Sistem ini dapat menarik minat peminjam yang masih dihantui pergolakan pasar obligasi dan ekuitas global di Amerika yang meledak,” ujarnya.
Sayangnya, di Indonesia sendiri, penetrasi pasar (strategi pertumbuhan, red) untuk keuangan dan asuransi syariah dirasa masih rendah. Menurut alumni University of Waterloo tersebut, tantangan terbesar dari topik keuangan syariah terletak pada pengenalannya dalam lingkungan akademisi dan masyarakat luas. Selain terdengar masih awam, konsep ini cukup sering disalahartikan. “Tak harus muslim, setiap orang dapat mempelajari dan turut serta dalam proses pelaksanaannya, semoga semakin banyak masyarakat yang teredukasi dengan konsep keuangan ini,” harapnya. (dik/hen)
Kampus ITS, ITS News — Untuk meningkatkan efisiensi anggaran dan memperkuat branding, sivitas Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas sebuah
Kampus ITS, ITS News — Untuk lebih meningkatkan kualitas akademiknya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperbanyak jumlah guru besar
Mojokerto, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menunjukkan komitmennya dalam menunjang program pendidikan dokter muda atau koas
Kampus ITS, ITS News — Terus berupaya dalam menjawab kebutuhan industri sukses mengantarkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menempati posisi