Kampus ITS, ITS News – Di era yang semakin berkembang ini, terutama di situasi yang tak menentu akibat destruktif pandemi, kemampuan mahasiswa untuk berpikir secara ilmiah kian menyurut. Guna mengatasi permasalahan tersebut di kalangan mahasiswa ITS, Bidikmisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (BIMITS) latih mahasiswa untuk berpikir ilmiah melalui Webinar BIMITS Scientist.
Surutnya kemampuan berpikir secara ilmiah yang seharusnya dimiliki oleh seorang mahasiswa, saat ini semakin tampak tegas terlihat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa yang kesulitan dalam menganalisis data sebagai akar permasalahan, mengolah data menjadi suatu informasi, menganalisis keterkaitan data dengan problem solving, hingga proses penarikan kesimpulan serta problem solving yang ditawarkannya. Berbagai bukti tersebut sejatinya dapat menjadi sebuah refleksi bagi para mahasiswa untuk mengasah kemampuannya dalam berpikir secara ilmiah.
Pemateri dalam webinar ini, Alvan Nauval Rahmat, memaparkan bahwa sejatinya dalam berpikir secara ilmiah terdapat suatu metode saintifik. Metode ini dapat berguna menjadi salah satu kerangka pikir yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena dengan cara yang sistematis. “metode saintifik ini terdiri dari enam tahap mulai dari observation, questioning, research, hypothesis, testing, hingga tahap draw a conclusion,’’ ungkap Nauval.
Tahapan dimulai dari observation yang dapat dilakukan melalui suatu aktivitas pengamatan terhadap suatu fenomena yang terjadi di sekitar. Kemudian setelah melakukan pengamatan, pada tahap questioning, pemikiran dapat difokuskan pada arah yang lebih spesifik dengan menggunakan framework 5W1H. Pada tahap ketiga yakni research, kaji literatur dapat dilakukan untuk menghindari pemikiran yang berputar-putar.
Lebih lanjut, Nauval menjelaskan tahap hypothesize yang tidak kalah penting untuk memperjelas arah berpikir atau arah penelitian. Tahap hypothesize ini merupakan proses menduga namun dengan dasar ilmiah. Dari hipotesis yang dihasilkan perlu dibuktikan kebenarannya melalui tahap testing. Hasil yang diperoleh berupa data yang dapat dihitung, dibandingkan, dan dianalisis. Kemudian tahap terakhir yakni draw a conclusion yang diperlukan untuk menentukan benar atau tidaknya hipotesis di awal.
Dari keseluruhan yang telah dijelaskan oleh mahasiswa yang tergabung dalam tim robotika ITS Robocon ini, harapan besar para mahasiswa nantinya mampu menerapkannya guna meminimalisir terjadinya kesalahan berpikir. Karena menurutnya, tak ada kerugian yang didapatkan seseorang dari berpikir secara ilmiah. “Ada berbagai manfaat yang bisa diperoleh mulai dari kebenaran fenomena, memanipulasi alam untuk dimanfaatkan, hingga membentuk manusia yang bijak,” pungkasnya.(*)
Reporter: Shauma Aulya Zahra
Redaktur: Muhammad Miftah Fakhrizal
Kampus ITS, ITS News — Kenyamanan mahasiswa dan upaya untuk memberikan pelayanan lebih baik ke depannya telah menjadi prioritas
Kampus ITS, ITS News — Sekolah Kepemimpinan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lanjut memberikan ilmu berharga kepada para pejabat
Kampus ITS, ITS News – Ada yang menarik pada perhelatan Sekolah Kepemimpinan 2025 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berkomitmen untuk melebarkan keilmuannya, salah satunya dalam bidang