Hujan deras yang mengguyur kota Surabaya pada Jumat (24/11) menyebabkan hampir seluruh wilayahnya terendam banjir. Banjir kali ini menggenangi Surabaya dengan ketinggian mencapai 124 mm. Menurut pakar Hidro ITS, banjir ini disebabkan curah hujan yang cukup tinggi.
Siti Kamilia Aziz ST MT, kepala lab Hidro Kampus ITS Manyar berpendapat bahwa curah hujan kemarin mencapai 124mm. “Curah hujan harian lebih dari 100 mm sudah dikategorikan rawan hujan tinggi,” terangnya saat dijumpai kru ITS online.
Curah hujan setinggi 124 mm tersebut merupakan hasil perhitungan kira-kira periode ulang selama sepuluh tahun. Dalam ilmu Hidrologi, curah hujan periode ulang adalah curah hujan yang hanya terjadi satu kali dalam setiap periode ulangnya.
“Misalnya curah hujan rencana (R2) sebesar 99 mm, maka intensitas curah hujan 99 mm ini hanya akan terjadi satu kali dalam periode 2 tahun. Tapi tidak tahu kapan terjadinya, itu kehendak Allah,” tutur dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil tersebut menjelaskan.
Tahun lalu, Surabaya juga pernah dikepung banjir. Namun curah hujan pada saat itu hanya 110 mm. Memang termasuk curah tinggi, namun tak setinggi Jumat kemarin.
Tahun ini, drainase Surabaya sudah jauh lebih baik. Hanya saja, kemarin hujan datang bersamaan dengan sholat jumat. Karena petugasnya sedang ibadah jumatan, maka pompa terlambat dinyalakan. “Untungnya, air surut lebih cepat dibanding tahun lalu,” ujar Siti.
Kebutuhan pompa air memang sudah menjadi tumpuan. Hal ini dikarena Surabaya merupakan dataran rendah. Sehingga tidak bisa membuang air mengikuti gravitasi dan harus bergantung pada operasional pompa.
Di musim hujan seperti ini, seringkali terjadi curah hujan tinggi. Siti menyarankan agar masyarakat tidak bepergian ketika hujan, apabila tidak ada keperluan mendesak. Karena dikhawatirkan terjadi banjir, kemudian macet. Sehinggo berisiko membahayakan pengendara.
“Sebenarnya yang perlu ditekankan adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga saluran agar tetap bersih,” ungkapnya. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak membuang sampah ke saluran drainase, dan juga rutin membersihkan tanaman-tanaman yang mengganggu kemampuan saluran mengalirkan air.
Pemerintah Kota Surabaya telah memperbaiki sistem drainase sejak tahun lalu. Namun jika pemerintah saja yang bergerak, tidak akan cukup. Pencegahan banjir juga harus dibarengi dengan perilaku masyarakat yang mendukung terjaganya lingkungan sekitar. “Seluruh lini harus bergerak bersama-sama,” pungkasnya. (mbi/ven)
Surabaya, ITS News — Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi yang tak ternilai, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Kampus ITS, ITS News — Keamanan informasi menjadi isu yang semakin krusial di era digital ini. Menjawab tantangan tersebut,
Kampus ITS, ITS News — Sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali berkontribusi dalam mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.
Kampus ITS, ITS News — Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan ruang kreativitas dan kolaborasi bagi